7 Tempat Terangker di Indonesia
Posted on Rabu, 19 Desember 2012
|
No Comments
Lokasi: Jln. Metro Pondok Indah,
Jak-Sel
Fenomena: Penampakan hantu
bapak-bapak dan perempuan.
Testimonial: Sekitar tahun 2002,
Nurdin (32), penjual gulai dan soto di sekitar Pondok Indah, mengaku pernah
melihat hantu yang menyerupai bapak-bapak hilir-mudik di halaman depan rumah
ini.
Sejarah: Masih ingat ramainya
pembicaraan di akhir September 2002 tentang hilangnya seorang tukang nasi
goreng di depan rumah kosong ini?
Kejadian ini jadi menghebohkan karena di
depan rumah tersebut hanya tertinggal gerobak nasi gorengnya. Konon katanya,
malam sebelum hilang tukang nasi goreng tersebut hendak mengantar nasi goreng
yang dipesan oleh seorang perempuan ke dalam rumah. Namun, ia
tak pernah keluar
lagi. Mengenai sejarah rumah itu, konon seisi keluarga pemilik rumah ini tewas
dalam peristiwa perampokan bermotif persaingan bisnis. Sejak itu, banyak orang
yang lewat kerap melihat jelmaan hantu seperti hantu bapak-bapak dan hantu
perempuan. Namun, akhir-akhir ini sudah tidak banyak kejadian horor yang
dilaporkan terjadi di rumah ini. Bahkan beberapa waktu lalu, rumah ini sempat
dijadikan tempat bermalam para tunawisma.
Lokasi: Di belakang pasar burung
Barito Jak-Sel.
Fenomena: Kuntilanak dan
genderuwo
Sejarah: Taman Langsat ini
sebenarnya merupakan fasilitas olah raga dan bersantai yang cukup lengkap. Di
dalamnya tumbuh pepohonan yang asri. Hanya saja, tidak banyak orang yang
memanfaatkan fasilitas ini. Karena sepi, taman kota ini pun menjadi angker,
terutama pada malam hari. Konon pada malam hari, warga kerap melihat kuntilanak
di pohon-pohon di taman Langsat.
Testimonial: Kisah hantu dan
orang-orang yang kesurupan bukan lagi barang baru bagi Ibu Rahmat (34), penjual
rokok di tepi taman Langsat, yang sudah 25 tahun membuka kios rokok tersebut.
Suatu ketika, tamu yang sedang nongkrong di warungnya pernah pamit pada jam 1
pagi karena mengaku melihat genderuwo. Setiap kali berjaga malam, Syamsuri
(21), Satpam yang telah bertugas selama 3 tahun di Taman Langsat, sering
mencium bau-bau aneh dan mendengar suara-suara tertawa yang tak jelas
sumbernya.
Lokasi: Jln. Dharmawangsa 9,
Jak-Sel, persis di sebelah salah satu club terkemuka di daerah ini.
Fenomena: Hantu anak kecil
Sejarah: Konon, di rumah ini ada
seorang anak kecil yang terjatuh ke dalam kuali yang sedang digunakan untuk
merebus kentang. Apabila Anda sedang ‘mujur’ dan lewat di depan rumahnya, Anda
dapat mencium aroma kentang rebus dan mendengar suara anak kecil menangis.
Testimonial: Agip (24) sudah
menjaga kios rokok di depan rumah ini sejak tahun 1997. Agip mengaku sering
mencium aroma kentang rebus, terutama menjelang malam, meskipun rumah kosong
ini sempat ramai karena disewa oleh ekspatriat.
Lokasi: Bintaro, Jakarta Selatan
Fenomena: Makhluk menyeramkan
korban tabrakan kereta
Sejarah: Pada 19 Oktober 1987,
terjadi kecelakaan kereta yang menewaskan ratusan orang di dekat Stasiun
Sudimara, Bintaro. Di lintasannya sendiri juga sudah berulang kali terjadi
kecelakaan yang memakan korban nyawa. Konon, lintasan ini dianggap angker
karena sering terdengar suara orang menangis dan menjerit.
Testimonial: Imam (31), teknisi
rel yang bekerja sejak tahun 1996. Ia pernah melihat makhluk yang wujudnya
seperti orang berbalut sarung hitam. Meski kereta sudah bolak-balik lewat
melindasnya, makhluk ini tak mau pergi seperti sengaja meledek. Akhirnya di rel
tersebut diadakan pemotongan kerbau. Ia juga pernah bertemu makhluk serupa
perempuan Belanda di zaman kolonial, dan kuntilanak melintas di rel.
Lokasi: Jembatan Ancol (eks
jembatan goyang), Pantai Ancol, dan daerah lain sekitar Ancol, Jak-Ut
Fenomena: Siti Ariah Si Manis
Jembatan Ancol (populer dengan sebutan Maryam setelah kisahnya diangkat ke
layar kaca)
Sejarah: Pada 1995, seorang
pelukis di Ancol didatangi seorang perempuan yang meminta dilukis. Ketika
pelukis baru menggambar setengah bagian tubuhnya, perempuan itu menghilang.
Warga percaya bahwa perempuan itu adalah Si Manis Jembatan Ancol. Mitos ini
sudah dimulai puluhan tahun sebelumnya. Di tahun 60-an ketika daerah Ancol
masih berupa empang-empang, seorang pendayung perahu pernah bertemu dengan Si
Manis. Perempuan itu naik perahu malam-malam dan membayar pendayung tersebut
dengan daun. Keterangan ini didapat dari Kostan Simatupang (65), seorang
fotografer keliling di Ancol, teman dari pendayung perahu tadi.
Testimonial: Anshori (38),
penjual rokok di dekat pintu keluar Ancol, mengaku pernah melihat Siti Ariah
dari dekat. Ia membuka pertama kali kios rokoknya di sini pada 1990, tepatnya
di samping jembatan goyang. Saat itu malam Jumat,
Anshori sedang menunggui kiosnya,
agak gerimis. Sekitar pukul 1 pagi, lewat seorang perempuan. Ketika sudah agak
jauh, perempuan itu berbalik arah menghampiri kios Anshori sembari tersenyum. Anshori
menyapa perempuan yang dikiranya calon pembeli dagangannya itu. Jarak Anshori
dengan perempuan itu kira-kira 50 cm. Menurut Anshori, perempuan itu berwajah
manis, serta memakai kemeja kuning dan rok abu-abu. Setelah ditanya hendak
belanja apa, perempuan itu menghilang. Meski tidak memakai pakaian serba putih,
Anshori yakin perempuan itu adalah Si Manis Jembatan Ancol. Semenjak kejadian
itu, Anshori merasa dagangannya kian laku dan rejekinya semakin lancar.
Lokasi: Jln. Basuki Rachmat,
Jak-Tim
Fenomena: Sosok menyeberang
jalan, di antaranya nenek-nenek bersama cucunya dan perempuan cantik.
Sejarah: Dibangun di atas tanah
pekuburan, terowongan Casablanca terbilang angker. Menurut beberapa warga
Casablanca , ketika pembongkaran kuburan tersebut, bahkan ada 1 jenazah yang
masih utuh. Dari terowongan Casablanca sampai kira-kira radius 40 meter
sesudahnya, banyak terjadi kecelakaan yang penyebabnya tidak masuk akal.
Biasanya karena pengendara motor atau mobil melihat sesosok perempuan tiba-tiba
menyeberang di hadapan kendaraannya, sehingga pengemudi kendaraan tiba-tiba
banting setir dan menabrak pembatas jalan.
Menurut warga, ada baiknya ketika
melewati terowongan ini, pengemudi kendaraan membunyikan klakson untuk
“menyapa” penghuni terowongan. Akhir tahun 90-an, seorang laki-laki separuh
baya ada yang menggantung diri dengan spanduk di sini. Jadilah tempat ini
semakin angker.
Testimonial: Menurut Ibu Yati
Mustofa (43), warga yang tinggal di dekat terowongan Casablanca, warga kerap mendengar
suara tangisan, ketika sumber bunyi dihampiri, suara itu berpindah-pindah.
Lokasi: Kelurahan Jeruk Purut,
Jak-Sel
Fenomena: Pocong, tuyul,
kuntilanak, kuntilanak-laki, and if you’re lucky , Pastur Kepala Buntung.
Sejarah: Pada tahun 1986, seorang
penjaga makam TPU Jeruk Purut yang sedang jaga malam melihat sesosok pastur tak
berkepala melintas di antara makam. Pastur itu menenteng kepalanya sendiri dan
di belakangnya, ikut seekor anjing. Konon, pastur ini “salah pulang”. Ia mencari-cari
makamnya yang sebenarnya berada di unit Kristen TPU Tanah Kusir, sedangkan di
TPU Jeruk Purut hanya ada unit Islam. Sapri Saputra, penjaga makam yang melihat
pastur kepala buntung itu, hingga kini masih menjaga makam dan dianggap kuncen
atau orang yang dituakan di TPU Jeruk Purut. Kesaksian Bapak Sapri ini kemudian
menyebar luas se-Jakarta dan hingga kini “Sang Pastur Kepala Buntung” menjadi
legenda horor di Jeruk Purut. Konon, jika Anda ingin menemui pastur legendaris
ini, Anda harus datang pada malam Jumat dengan jumlah ganjil (sendiri atau
bertiga).
Testimonial: Sejak kecil, Asmari
(34), juniornya Bapak Sapri, telah terbiasa tinggal di areal pemakaman Jeruk
Purut. Ayahnya adalah pegawai Pemda
yang bekerja di sana . Semenjak
lulus SD (1986), Asmari menjadi pengurus makam non-karyawan TPU Jeruk Purut
mengikuti jejak ayahnya. Menurut Asmari, pengalaman bertemu dengan
makhluk-makhluk gaib merupakan hal yang biasa baginya; mulai dari pocong,
tuyul, kuntilanak, kuntilanak laki, dan lain-lain. Akan tetapi, hingga saat ini
dia belum pernah bertemu dengan Sang Pastur Kepala Buntung. “Yang paling jahil
itu kuntilanak-laki, ” tutur Asmari.
Ketika sedang ronda, Asmari
pernah ditimpuki kerikil dari atas pohon melinjo oleh makhluk ini. Tapi, dari
semua pengalaman Asmari bertemu dengan makhluk gaib, yang paling menarik adalah
ketika bertemu dengan tuyul. Pada suatu hari menjelang malam di tahun 1986,
Asmari hendak pulang ke rumah bersama ayahnya.
Mereka melihat seorang anak kecil
telanjang bulat berlarian di antara makam sambil tertawa-tawa. Anak itu lalu
berteriak meminta uang pada Asmari. Asmari heran karena anak itu tak
dikenalnya, sementara ia mengenal semua penduduk di kampung belakang Jeruk
Purut. Dulu memang hanya ada satu kampung yang penduduknya tidak terlalu
banyak. Ketika ditanya latar belakangnya, anak kecil ini malah lari ke dalam
keramat, sebuah rumah makam tradisional Betawi. Asmari mengikutinya hingga ke
dalam keramat dan, bisa ditebak, anak itu menghilang.






